November 2016, Microsoft meluncurkan “Teams” yang bisa mengancam dominasi Slack.

 

Slack merespon dengan ini:

https://www.theverge.com/.../slack-microsoft-teams-new...

Seperti mengirimkan pesan kalau mereka akan melawan dengan keras dan memberikan persaingan yang kuat.

 

2020, 4 tahun kemudian, pandemi datang, User Slack naik dari 4 juta user di 2016 ke 12 juta user.

 

Sedangkan Microsoft Teams naik dari 0 user di tahun 2016, ke 115 juta user di Oktober 2020.

https://www.theverge.com/.../microsoft-teams-115-million...

Slack merasa dia bersaing. Microsoft membuatnya seperti bahkan dia ga ada didalam permainan sama sekali. Dianggap ga ada.

 

1 Desember 2020, Slack menjual dirinya sendiri ke Salesforce

https://www.nytimes.com/.../salesforce-slack-deal.html

Pelajarannya buat saya:

1. Produk yang bagus penting, tapi distribusi yang akhirnya menentukan akuisisi pasar. Microsoft mendistribusikan Teams dengan membundlingnya bersama paket Office 365.

 

Dalam dunia yang semakin mendekati zero marginal cost of distribution, bukan siapa yang bisa bakar uang terbanyak, atau pertumbuhan tercepat yang bisa mendapatkan potongan kue yang besar, tapi siapa yang memiliki aset data yang besar dan memiliki kedalaman data yang detail.

 

Bahasan Zero Marginal Cost ada disini: https://youtu.be/QX3M8Ka9vUA

 

2. Bukan tentang apa bisnisnya, tapi siapa yang menjalankan. Stewart Buterfield merupakan CEO Slack dari tahun 2010. Satya Nadella “baru” memimpin Microsoft di 2014. Tapi dalam 6 tahun Microsoft udah ga seperti jaman kita pake Windows 7 dulu. Berubah total.

 

Stewart adalah CEO masa perang, makanya bawaannya ngajakin perang mulu bahkan saat perusahannya udah stabil, dan udah tenang. Bahkan Microsoft pun diajak perang. Terlalu menarik perhatian, berisik, dan menghabiskan sumber daya.

 

Satya adalah CEO masa tenang. Selow. Bawaannya pengen kolaborasi mulu sana sini, rajin silaturahim, termasuk ke Indonesia. Bahkan Linux pun diajak colab, belio juga pake iPhone. Sesuatu yang ga akan terjadi di jaman Steve Ballmer.

 

Bahasan CEO masa perang dan CEO masa tenang ada disini:

http://kepo.blog/39

 

3. Tahu kapan mesti mundur, atau sadar saat memang bukan medan perang kita lagi. Slack itu besar, tapi Microsoft itu levelnya beda. Kalau memang udah ga ketemu jalan untuk menang, cari gimana caranya, atau siapa yang bisa membuat medan perangnya berimbang.

 

4. Saat yang lain bundling kita unbundling. Saat yang lain unbundling, kita bundling.

 

Mungkin ada pelajaran lain yang bisa diambil?

Bisnis ini cuma permainan, dunia ini cuma senda gurau.

 

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.

 

Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.

 

Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.

 

Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).

 

Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”

 

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42)

 

Fikry Fatullah
Founder Kirim Email